Rintik hujan menjahit sunyi utas air,
Jatuh dengan tenang—
Bak doa-doa luruh dibibir jagat.
Tetesannya lirih,
Tak mengantongi amarah,
Hanya jejak-jejak bening yang menghilang,
Yang mencari arah jalan pulang.
Raga kota berubah:
Tanah dibungkam beton,
Akar-akar ditarik paksa ingatan,
Sungai disesak sampah.
Hujan tak pernah memilih tempat,
Hujan tak pernah memilih siapa yang pantas basah,
Hujan hanya turun mengikuti ombak langit,
Namun mereka menuding seolah pelaku utama.
Padahal setiap rintiknya,
Ia menyimpan raga yang menebang,
Yang mencabut paksa,
Yang melupakan perilakunya.
Tak pernah melawan
Tak pernah menjawab,
Karena ia paham—
Ia tak perlu diadili
Melainkan merekalah
Yang lupa arti menjaga.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar