Kamis, 09 April 2026

GENANGAN

Di lekuk nabastala yang redup,

Rintik hujan menjahit sunyi utas air,

Jatuh dengan tenang—

Bak doa-doa luruh dibibir jagat.

 

Tetesannya lirih,

Tak mengantongi amarah,

Hanya jejak-jejak bening yang menghilang,

Yang mencari arah jalan pulang.

 

Raga kota berubah:

Tanah dibungkam beton,

Akar-akar ditarik paksa ingatan,

Sungai disesak sampah.

 

Hujan tak pernah memilih tempat,

Hujan tak pernah memilih siapa yang pantas basah,

Hujan hanya turun mengikuti ombak langit,

Namun mereka menuding seolah pelaku utama.

 

Padahal setiap rintiknya,

Ia menyimpan raga yang menebang,

Yang mencabut paksa,

Yang melupakan perilakunya.

 

Tak pernah melawan

Tak pernah menjawab,

Karena ia paham

Ia tak perlu diadili

Melainkan merekalah

Yang lupa arti menjaga.

 


 

 

 

 


Rabu, 18 Februari 2026

RINTIHAN TANAH LAHAN GAMBUT

Senja jatuh diatas bibir sungai siak, air berjalan mengalir lembut, langit menyalang pagi seolah lupa menjadi biru. Rumah-rumah panggung bersikukuh enggan untuk jatuh diatas tanah blasteran waktu sejarah. Perahu berhilir mengantongi hasil hutan dan laut, udara terasa berat tak terlihat namun terasa di tubuh dada.

Kampung dikala itu ramai dengan kehidupan. Namun kini, suara itu memudar sebab asap yang mulai berjalan mengelilingi karena Lahan Gambut, bagiku ini tantangan yang cukup besar. Karena suara dayung, angin, burung rawa, dan doa di surau mengalun lembut, yang menemani kehidupan, hilang seperti ditelan sesuatu yang tak terlihat. Tanah yang selalu menyimpan air seperti ingatan yang takkan hilang, bunyi akar yang merambat, air yang mengalun di bawah tanah, berubah, retak.

***

Aku lahir dari suara yang hampir tak terdengar.

Bukan dari riuh pasar atau klakson jalan, melainkan dari tuturan lingkungan yang lembut. Semilir angin meniup deras Lahan Gambut kampungku, di tepi kehidupan Riau yang dipenuhi tanah basah dan dedaunan. Bukan hanya sekadar tanah yang basah, tapi seperti umur yang panjang tumbuh dengan sabar.

Di sini aku tumbuh bagai pohon sialang, di tengah suara air yang mengalir dan batang sagu.

Namun beberapa tahun terakhir, suara itu mulai memudar.

Suara tawa anak-anak, irama lagu diwaktu pagi. Terpojokkan dengan gerumuh mesin, Langkah-langkah orang membawa peta, dan janji-janji yang tertulis di atas kertas. Kata mereka tanah ini harus diasap agar kering, dan ditanami sesuatu yang lebih menguntungkan mereka.

Bagi mereka, tapi tidak untuk orang sekitar, aku tak mengerti apa yang mereka pikirkan.

Di sini, aku masih berdiri tegak disamping kanal yang barus saja membelah lahan gambut seperti luka, air yang mengalir, namun pelan tampak tak ingin meninggalkan rumahnya, kanan-kirinya, hitam, retak.

            “Jika beterusan begini, tanah ini akan mati,” bisik Apak malam itu sembari menyeruput kopi.

            “Udo, ini terlalu berlebihan,” sahut Mak Cik yang tinggal disekitaran dikota. “Udo, pernah gak sekali aja mikir, jika orang-orang di sini butuh pekerjaan, ini kesempatan besar untuk mereka berubah, supaya mereka gak terus hidup ditempat ini.”

Aku benar-benar tak berani menyela pembicaraan mereka, sebenarnya aku ingin sekali tuk mengeluarkan sepotong kata, namun kondisi mereka yang sudah seperti api yang membara membuatku berfikir seribu kali.

            “Kalau tanah ini mati, kita akan menjalani hidup dengan apa?”  Ucap Apak

Keadaan bukannya semakin tenang tetapi semakin mencengkam, diam bukan karena tak paham melainkan karena enggan mendengar Apak.

***

Angin kemarau melangkah lebih laju tahun itu

Lahan tanah gambut kini retak dan mengering, retakannya tak hanya di sekitar permukaan tapi juga keadaan kami yang berada diatas tanah ini. Setiap Langkah kini terasa sangat ringan bahkan terlalu ringan, seolah tanah yang kupijak tak lagi menyentuh kakiku.

Semilir sore datang ditemani asap bising dari mesin.

Walaupun hanya tipis, tapi seperti kabut yang tersesat. Aku ingat saat itu aku sedang mengambil air didekat situ, aku mencium bau yang mengepung langit, baunya benar asing dan menakutkan saat dihirup.

            “Kebakaran, ada kebakaran!” Jerit seseorang dari ujung dusun.

 Aku juga Apak, berlarian membawa ember, membawa cangkul, dan doa-doa dalam hati. Teriakkan warga bahkan dedaunan, mengebu-gebu menyaksikan sepanjang jalan dengan permohonan kepada tuhan.

Api dari lahan gambut tak seperti api pada umumnya. Ia tak menampakkan dirinya dipermukaan, ia menyelinap diantara tumpukan tanah, merambat perlahan, melahap akar-akar, juga ingatan yang ada dalam tanah itu sendiri. Asap menaruh kegelapan. Pengelihatan merangkak kabur. Sesak yang mengisi seluruh tubuh.

Disela-sela hiruk-pikuk kekacauan itu, aku mendengar bisikan. Bukan suara manusia, bukan juga hewan. Suara bisikan itu sangat kecil bak rintihan kesakitan.

            “Kurang airnya! Cepat tambah lagi!” teriak Apak.

Aku dan orang-orang sekitar berlarian kearah kanal, bergotong-gotong membawa, mengisi, Kembali lagi, dan terus berulang-ulang sampai lenganku tak mampu berkata. Namun, setiap aku Kembali kearah apak untuk memberikan air, dan berhenti sejenak, suara itu, datang lagi.

Aku menutup mataku sejenak, mendengar lebih jelas apa yang baru saja kudengar.

Suara itu seperti berkata: jangan biarkan aku menghilang dari sini.

Aku tak tahu harus mengatakan ini dengan cara seperti apa pada orang lain. Bagaimana mungkin tanah berbicara? Dan yang kami bangun ditasnya bersuara?

Tapi aku bisa merasakanya, mendengarnya dengan jelas. Diantara suara api yang bertebaran, teriakan orang-orang, dan dedaunan, rintihan itu terus bermunculan, membuatku menjadi gemetar.

***

Malam ini kami berkumpul di teras rumah.

Raut kelelahan terlihat jelas diwajah mereka, mata yang memerah, batuk yang tak henti-henti. Sebagian dari mereka ada yang berfikir untuk memilih pergi dari desa, sebab itu kami berkumpul malam ini untuk membicarakan dengan matang.

            “Apa kalian yakin untuk pergi dari sini?” Ucap Apak pada tetangga kami.

            “Jika kita diam saja, kita bisa mati bersama api-api ini,” sahut salah satu warga sekitar.

            “Begini, jika kita pergi bagaimana dengan tanah yang sudah menemani kita selama ini?” Tanyaku pelan, “Jika kita pergi, apakah kita menyisakan sesuatu untuk tanah ini?”

            “Mereka tak hanya membakar tanah, tapi membakar tempat awal kita hidup, jika kita meninggalkan begitu saja, kita membiarkan tanah ini mati ditangan mereka?” Ucapku dengan lantang sembari mengangkat cangkul.

Semua mata tertuju padaku. Mataku menatap kearah mereka, mencoba berfikir tentang perkataanku sebelumnya, sebab mereka menatapku juga dengan tatapan setajam pisau

Apakah ucapanku salah?

Kami memang tidak mempunyai alat-alat seperti dikota, namun kami memiliki cangkul, ember, doa yang selalu membersamai kami untuk melangkah.

Berhari-hari kami lalui, berhari-hari kami habiskan untuk meredakan keadaan disekitar dengan usaha yang sederhana, berharap tanah ini akan kembali basah dan hidup. Setiap aku melangkah, setiap aku lelah, ada suara yang selalu membuatku untuk tak menyerah menghidupkan tanah ini lagi, aku tak ingin kehidupanku menghilang hanya karena orang-orang seperti mereka yang ingin mensihir tanah ini pergi.

Aku selalu disini.

***

Beberapa minggu ini hujan turun dengan sangat lebat.

Rintik hujan kembali mengisi bibir gambut dengan sangat lembut, seperti langit yang tak kuat menahan air matannya. Aku berdiri, menatap tempat yang hampir pergi karena api dan perlakuan orang kota. Mendengar sejuk yang mulai akrab kembali, lirih lembut air mengalir meresap ke dalam tanah lahan gambut, ditemani daun-daun menari gembira.

Terdengar suara itu lagi. Tapi bukan seperti rintihan lirih kesakitan. Tapi kebahagiaan yang sedang melaju saat ini.

            “Aku mendengarnya, sepertinya kau sangat bahagia karena hujan,” Sahutku pada tanah dengan perasaan senang.

Kali pertama suara ini tak terdengar seperti kesakitan dan memohon, tapi seperti mengucapkan terima kasih. Sebenarnya aku tau jika konflik ini belum selesai, tapi hanya membaik karena hujan.

Orang-orang dari kota juga masih terus-menerus mengeringkan, dan mengambil lebih banyak dari tanah ini. Pasti akan selalu ada api-api yang bermunculan karena ulah mereka berikutnya. Tapi aku sekarang jadi tahu, selama masih ada orang yang mendengar lirih kecil dari tanah, kampung, dan peradaban yang hampir hilang, kita masih memiliki harapan untuk melanjutkan. Menjadi telinga untuk keadaan yang sering dianggap tak bersuara, menjadi saksi bahwa yang kecil, yang lemah, dan nyaris tak didengar, itulah yang harus dijaga.

***

Kabar pelebaran kanal menyebar meluas di seluruh tempat dengan cepat. Di teras dusun orang-orang Kembali berkumpul dengan raut wajah yang penuh dengan perasaan penuh kecemasan.

            “Kondisi saat ini sedang susah, mereka sulit untuk dilawan” Ucap salah satu bapak dengan tergesa-gesa.

            “Mereka juga mempunyai izin.”

            “Tapi ini tanah kita, bukan tanah mereka, ini tempat kita menjalankan kehidupan.” Ucap Apak

Pembicaraan yang cukup menengangkan seperti aliran sungai yang tak tahu arah jalan.

Hari-hari berjalan begitu sangat Panjang.

Sebagian warga dari dusun, memilih mengerjakan kanal baru karena mereka membutuhkan uang untung membiayai kehidupan mereka, tapi Sebagian dari mereka juga menolak, dan lebih memilih menjalankan kebun, sagu, dan ikan dari sungai yang tak lagi jernih.

Dusun yang dulunya selalu menyatu, kini terbelah buakan karena pagar yang memisahkan, tetapi karena berbeda pilihan. Berjalan melewati rumah-rumah yang kala itu terbuka ceria, kini tertutup rapat seperti menyembunyikan sesuatu yang tak ingin diketahui seseorang.

Aku tahu, besok atau seterusnya, keadaan ini akan datang lagi dan lagi.

Aku juga tahu jika masih ada telinga yang mendengar, dan masih ada hati yang peduli, suara kecil yang tak pernah didengar akan bertahan dan takkan hilang.

Aku, Apak, Mamak, Mak Cik, dan Sebagian warga sekitar berdiri di sini, di antara luka dan permohonan, di antara konflik yang belum selesai dengan keberanian yang tumbuh lebat.

Menjadi bagian dari suara kecil Lahan Gambut, menggema kecil yang melarang lenyap, ditengah peradaban yang terus menerus berubah.

 

 

 


PERJUANGAN SASTRAWAN BAHASA DAN SASTRA

Sudahkah engkau melihat perjuanganya?

Berhari-hari, membawa mantra-mantra Bahasa

Menyisir waktu untuk mengenal sastra

 

Menumbalkan karya

Menyulap keburukan Bahasa

Seolah mengantongi  harta

Mengukir bingkai indah

 

Doa-doa mengalir

Seperti angin mengantongi dunia

Menyapa kebahagiaan

Tabah menunggu perjuangan

 

Perjalanan sang sastrawan

Bagaikan bulan berseteru

Menenun waktu demi waktu

Seolah takdir menyapa

 

Bintang berbinar di ujung semesta

Tirani datang membawa gunjingan

Hujan menghunjam dunia

Karya hanyut terbawa angin

 

Bahasa asmaraloka

Merawat tubuh malam

Menata pintu kesedihan

Menilik masa lalu

Menarungkan doa pengharapan

 

Mengelus lembut cahaya malam

Menangkap Bahasa-bahasa asing

Melewati dimensi perjuangan

Menepuk Pundak kenangan

 

Tenggelam di laut malam yang gigil

Gagal membawa kehidupan sastra

Angin menyimpan kesedihan

Menuntun kebenaran

 

Di bawah gelombang kesunyian

Dalam hari-hari remang

Aku terus-menerus meminta

Agar semesta berhenti bersedih

 

Mengayuh jalan

Demi menemukan kebahagiaan

Menyimak gosip dunia

Bersandar di atas kesedihan

 

Semesta menaiki derajat sastrawan

Berhasil membawa nama sastra

kesedihan terbayar oleh kebahagiaan

seperti laut di penuhi kehormatan

 

Sidoarjo, oktober, 2024

 




MENCARI JEJAK CINTA ABADI

Aku mengetuk banyaknya pintu

Melambai semesta dengan tangan terbuka,

Bertanya adakah cinta yang tak pernah pudar,

Yang tak tergantikan fana kehadiranya.

 

Aku mencari pada gelapnya malam

Di bawah terangnya bintang-bintang

Kutemui cahaya dunia namun,

Redup Ketika fajar itu tiba

 

Kucari pada lubuk insan

Namun rapuh saat diuji luka,

 

Hinggaku dengar suara hampa bebas berujar

Dari sajadah yang dibasahi doa-doa

Dari ayat-ayat yang meresap dalam tubuh,

 

Cinta-mu, Tuhan, tak bertubir,

Tak berhenti, tak habis

Mengobati luka yang dalam

Menghidupkan lubuk diri yang padam

 

Setiap hembusan-hembusan napas,

Kasihmu yang bak menyelimuti,

Setiap luka dan rintik air mata

Belaian-Mu yang selalu mengobati,

 

 Aku hanyalah debu yang tak terlihat

Namun kau masih tetap memberiku

 semua tanpa syarat,

 

Tuhan,

biarlah hatiku luluh bersinggah,

Dalam langit-langitmu yang penuh

Biarlah jiwaku menaruh pada-Mu

 

 

 


JEJAK ALAM DARI KESUNYIAN

/1/

Berjalan tanpa alas, tanpa keluh

Melewati waktu dan balantara

Suku sederhana memadukan alam

Mereka, mengembala sekeliling daerah

 

/2/

Bak kehidupan jauh dari kata serakah

Bersikukuh dengan subur yang hidup.

Di antara bangunan yang menjulang tinggi

Hutan tumbuh berseri asri

 

Dengan pakaian putih, layaknya janji yang tak akan pudar

Pada leluhur dan tanah mereka di waktu kala itu,

Di sanalah, di jantung Banten yang teduh,

 Urang Kanekes,

Yang kita sebut: Baduy

Tapi mereka tidak sebut diri,

 

Karena julukan bukanlah inti bentuk hidup

Hanya alam, kejujuran, nan prilaku yang mereka rawat

Di hutan, di bawah rimba, di kesunyian.

 

“Kami bukan yang kala itu,” tutur mereka

“Kami kehidupan yang masih membeku dalam,

putaran abad dunia.”

/3/

Berasal dari halaman pajajaran kala itu

Silsilah kerajaan tenggelam dalam lembar lalu

Tetapi, menurut mereka, sejarah bukanlah keberhasilan,

Melainkan sebuah titipan dunia untuk dijaga

 

Pemimpin yang tak dipilih lewat surat suara

Namun takdir yang berkata,

Bukan tentang kekuasaan dunia,

Tapi tentang kebudayaan adat mereka

Baduy bak detik yang berdiam diri

Membantah dunia penuh silih.

 

/4/

Tak ada bangunan megah,

Tapi ada hutan terhias indah karena mereka,

 

Tak punya sesuatu berselimut emas,

Tapi punya mata air mengalir bebas,

Sasaka Domas, puncak gunung yang mereka jaga.

 

Tertunduk bukan pada patung,

Bukan juga langit,

Tetapi pada:

Nu Kawasa, Maha Kuasa.

Dunia boleh berisik dengan perselisihan.

Namun baduy tetap melangkah dalam diam,

Baduy bukan masa lalu, tapi masa depan yang menolak hangat zaman.

Langkah mereka tak bersuara, tapi bayang-bayang mereka bergema hingga kota-kota yang kehilangan arah.




RIAU DENGAN SERUMPUN WARISAN NUSANTARA

/1/ Nusantara berarti.

Di tanah lapang matahari tersenyum lebar,

Terbentang kisah di ujung sabang hingga Merauke,

Lantunan gamelan beradu seru atas degup ombak,

Bernyanyi tentang sejarah-sejarah penuh cinta dan persatuan.

 

Di pucuk kain tenun batik kabar falsafah bergema,

Sepanjang goresan, setiap warna,

adalah jiwa dan doa-doa bersama,

Dari tangan-tangan penenun yang tak padam api hidupnya.

 

Suara tangan tari saman menggebu-gebu di atas dada,

Wayang-wayang hidup dengan cara bijak,

Keris berkilau mengkilat bukan karna tajamnya,

Tetapi karna cara, nilai yang menjaganya.

 

Rumah-rumah adat berdiri kokoh dengan kehangatan,

Menjadi wadah dari banyaknya cerita dan rahasia hidup,

Menjadi saksi bagaimana kita hidup dengan keberagaman,

Menjadi tempat di mana kita sedih, senang menjadi satu.

Warisan bukan debu yang bisa menghilang begitu saja,

Ia adalah jantung, hati seluruh dunia.

/2/ Cermin warisan dan tubuh bangsa

Diujung tepian Sungai Siak teduh,

Menarilah sejarah, kisah kala itu,

Ombak-ombak itu mengantongi seluruh,

Marwah-marwah yang telah dijaga waktu,

 

Pohon Pulai berdenting dibibir Sumatra

Mengkilatnya bak kunang-kunang semesta

Jika bukan karena warisan, dan bangsa

Mungkin takkan hidup raga nusantara

 

Suara gendang kompang menggebu-gebu,

Zapin menari di bawah pelita bintang,

tak hanya sekadar menari,

tapi tentang sopan, tantang raga yang dibawa Marwah,

kau, Riau bukan sekadar nama peta,

kau, bak helai kehangantan tergerai di tubuh bangsa,

kupandang jiwa Riau pada sabana sunyi,

tempat melayu kokoh dengan santun.

 

karena Riau telah menjadi saksi:
bahwa bangsa besar lahir dari kesetiaan pada budayan


NAPAS DISELA TEBING

Luka bak tak terpandang

Seolah menggema pedih dalam dada

kegelapan dan kesunyian

menusuk dan mempuruk jiwa

menahan kerasnya badai dunia

 

air mata jatuh tanpa arah

sanaraku menahan banyaknya luka

berkali-kali harapan jatuh

kegagalan gilir berganti

 

tapi, ini tentang perjalanan langkahku

masih banyak misi perjuangan harus terbayar oleh ku

ini jalan yang kupilih

 

ini bukan hanya sekedar pohon yang jatuh dan,

berdiri Kembali

tapi ini tentang kehidupanku yang bangkit lagi

kecerahan langit datang dan menghampiri

sinar terang datang dengan sendiri

biar sang bumi memberi

walau lisan sudah tak sanggup berperi

 

dengan satu kepribadian teguh

keberhasilan akan berjalan dan datang

bak mereka yang terus-menerus berjuang

 

kebahagiaan khayal menari-nari

 doa penuh ayah ibu,

yang selalu menyertaiku

 

dengan seluruh kegagalan

pun menjadi akhir percobaan

dan, Langkah-langkah itu kelak kan berguna

di hari nanti.

 


GENANGAN

Di lekuk nabastala yang redup, Rintik hujan menjahit sunyi utas air, Jatuh dengan tenang— Bak doa-doa luruh dibibir jagat.   Tetesannya liri...