Senja jatuh diatas bibir sungai siak, air berjalan
mengalir lembut, langit menyalang pagi seolah lupa menjadi biru. Rumah-rumah
panggung bersikukuh enggan untuk jatuh diatas tanah blasteran waktu sejarah. Perahu
berhilir mengantongi hasil hutan dan laut, udara terasa berat tak terlihat
namun terasa di tubuh dada.
Kampung dikala itu ramai dengan kehidupan. Namun kini,
suara itu memudar sebab asap yang mulai berjalan mengelilingi karena Lahan Gambut,
bagiku ini tantangan yang cukup besar. Karena suara dayung, angin, burung rawa,
dan doa di surau mengalun lembut, yang menemani kehidupan, hilang seperti
ditelan sesuatu yang tak terlihat. Tanah yang selalu menyimpan air seperti
ingatan yang takkan hilang, bunyi akar yang merambat, air yang mengalun di
bawah tanah, berubah, retak.
***
Aku lahir dari suara yang hampir tak terdengar.
Bukan dari riuh pasar atau klakson jalan, melainkan
dari tuturan lingkungan yang lembut. Semilir angin meniup deras Lahan Gambut kampungku,
di tepi kehidupan Riau yang dipenuhi tanah basah dan dedaunan. Bukan hanya
sekadar tanah yang basah, tapi seperti umur yang panjang tumbuh dengan sabar.
Di sini aku tumbuh bagai pohon sialang, di tengah suara
air yang mengalir dan batang sagu.
Namun beberapa tahun terakhir, suara itu mulai memudar.
Suara tawa anak-anak, irama lagu diwaktu pagi. Terpojokkan
dengan gerumuh mesin, Langkah-langkah orang membawa peta, dan janji-janji yang
tertulis di atas kertas. Kata mereka tanah ini harus diasap agar kering, dan
ditanami sesuatu yang lebih menguntungkan mereka.
Bagi mereka, tapi tidak untuk orang sekitar, aku tak
mengerti apa yang mereka pikirkan.
Di sini, aku masih berdiri tegak disamping kanal yang
barus saja membelah lahan gambut seperti luka, air yang mengalir, namun pelan
tampak tak ingin meninggalkan rumahnya, kanan-kirinya, hitam, retak.
“Jika
beterusan begini, tanah ini akan mati,” bisik Apak malam itu sembari menyeruput
kopi.
“Udo,
ini terlalu berlebihan,” sahut Mak Cik yang tinggal disekitaran dikota. “Udo, pernah
gak sekali aja mikir, jika orang-orang di sini butuh pekerjaan, ini kesempatan
besar untuk mereka berubah, supaya mereka gak terus hidup ditempat ini.”
Aku benar-benar tak berani menyela pembicaraan mereka,
sebenarnya aku ingin sekali tuk mengeluarkan sepotong kata, namun kondisi
mereka yang sudah seperti api yang membara membuatku berfikir seribu kali.
“Kalau
tanah ini mati, kita akan menjalani hidup dengan apa?” Ucap Apak
Keadaan bukannya semakin tenang tetapi semakin
mencengkam, diam bukan karena tak paham melainkan karena enggan mendengar Apak.
***
Angin kemarau melangkah lebih laju tahun itu
Lahan tanah gambut kini retak dan mengering,
retakannya tak hanya di sekitar permukaan tapi juga keadaan kami yang berada
diatas tanah ini. Setiap Langkah kini terasa sangat ringan bahkan terlalu
ringan, seolah tanah yang kupijak tak lagi menyentuh kakiku.
Semilir sore datang ditemani asap bising dari mesin.
Walaupun hanya tipis, tapi seperti kabut yang
tersesat. Aku ingat saat itu aku sedang mengambil air didekat situ, aku mencium
bau yang mengepung langit, baunya benar asing dan menakutkan saat dihirup.
“Kebakaran,
ada kebakaran!” Jerit seseorang dari ujung dusun.
Aku juga Apak,
berlarian membawa ember, membawa cangkul, dan doa-doa dalam hati. Teriakkan
warga bahkan dedaunan, mengebu-gebu menyaksikan sepanjang jalan dengan
permohonan kepada tuhan.
Api dari lahan gambut tak seperti api pada umumnya. Ia
tak menampakkan dirinya dipermukaan, ia menyelinap diantara tumpukan tanah, merambat
perlahan, melahap akar-akar, juga ingatan yang ada dalam tanah itu sendiri. Asap
menaruh kegelapan. Pengelihatan merangkak kabur. Sesak yang mengisi seluruh
tubuh.
Disela-sela hiruk-pikuk kekacauan itu, aku mendengar
bisikan. Bukan suara manusia, bukan juga hewan. Suara bisikan itu sangat kecil
bak rintihan kesakitan.
“Kurang
airnya! Cepat tambah lagi!” teriak Apak.
Aku dan orang-orang sekitar berlarian kearah kanal,
bergotong-gotong membawa, mengisi, Kembali lagi, dan terus berulang-ulang
sampai lenganku tak mampu berkata. Namun, setiap aku Kembali kearah apak untuk
memberikan air, dan berhenti sejenak, suara itu, datang lagi.
Aku menutup mataku sejenak, mendengar lebih jelas apa
yang baru saja kudengar.
Suara itu seperti berkata: jangan biarkan aku
menghilang dari sini.
Aku tak tahu harus mengatakan ini dengan cara seperti
apa pada orang lain. Bagaimana mungkin tanah berbicara? Dan yang kami bangun
ditasnya bersuara?
Tapi aku bisa merasakanya, mendengarnya dengan jelas. Diantara
suara api yang bertebaran, teriakan orang-orang, dan dedaunan, rintihan itu
terus bermunculan, membuatku menjadi gemetar.
***
Malam ini kami berkumpul di teras rumah.
Raut kelelahan terlihat jelas diwajah mereka, mata
yang memerah, batuk yang tak henti-henti. Sebagian dari mereka ada yang
berfikir untuk memilih pergi dari desa, sebab itu kami berkumpul malam ini
untuk membicarakan dengan matang.
“Apa
kalian yakin untuk pergi dari sini?” Ucap Apak pada tetangga kami.
“Jika
kita diam saja, kita bisa mati bersama api-api ini,” sahut salah satu warga
sekitar.
“Begini,
jika kita pergi bagaimana dengan tanah yang sudah menemani kita selama ini?” Tanyaku
pelan, “Jika kita pergi, apakah kita menyisakan sesuatu untuk tanah ini?”
“Mereka
tak hanya membakar tanah, tapi membakar tempat awal kita hidup, jika kita
meninggalkan begitu saja, kita membiarkan tanah ini mati ditangan mereka?”
Ucapku dengan lantang sembari mengangkat cangkul.
Semua mata tertuju padaku. Mataku menatap kearah mereka,
mencoba berfikir tentang perkataanku sebelumnya, sebab mereka menatapku juga
dengan tatapan setajam pisau
Apakah ucapanku salah?
Kami memang tidak mempunyai alat-alat seperti dikota,
namun kami memiliki cangkul, ember, doa yang selalu membersamai kami untuk
melangkah.
Berhari-hari kami lalui, berhari-hari kami habiskan
untuk meredakan keadaan disekitar dengan usaha yang sederhana, berharap tanah
ini akan kembali basah dan hidup. Setiap aku melangkah, setiap aku lelah, ada
suara yang selalu membuatku untuk tak menyerah menghidupkan tanah ini lagi, aku
tak ingin kehidupanku menghilang hanya karena orang-orang seperti mereka yang
ingin mensihir tanah ini pergi.
Aku selalu disini.
***
Beberapa minggu ini hujan turun dengan sangat lebat.
Rintik hujan kembali mengisi bibir gambut dengan
sangat lembut, seperti langit yang tak kuat menahan air matannya. Aku berdiri, menatap
tempat yang hampir pergi karena api dan perlakuan orang kota. Mendengar sejuk
yang mulai akrab kembali, lirih lembut air mengalir meresap ke dalam tanah
lahan gambut, ditemani daun-daun menari gembira.
Terdengar suara itu lagi. Tapi bukan seperti rintihan
lirih kesakitan. Tapi kebahagiaan yang sedang melaju saat ini.
“Aku
mendengarnya, sepertinya kau sangat bahagia karena hujan,” Sahutku pada tanah dengan
perasaan senang.
Kali pertama suara ini tak terdengar seperti kesakitan
dan memohon, tapi seperti mengucapkan terima kasih. Sebenarnya aku tau jika
konflik ini belum selesai, tapi hanya membaik karena hujan.
Orang-orang dari kota juga masih terus-menerus
mengeringkan, dan mengambil lebih banyak dari tanah ini. Pasti akan selalu ada
api-api yang bermunculan karena ulah mereka berikutnya. Tapi aku sekarang jadi
tahu, selama masih ada orang yang mendengar lirih kecil dari tanah, kampung,
dan peradaban yang hampir hilang, kita masih memiliki harapan untuk
melanjutkan. Menjadi telinga untuk keadaan yang sering dianggap tak bersuara,
menjadi saksi bahwa yang kecil, yang lemah, dan nyaris tak didengar, itulah
yang harus dijaga.
***
Kabar pelebaran kanal menyebar meluas di seluruh
tempat dengan cepat. Di teras dusun orang-orang Kembali berkumpul dengan raut
wajah yang penuh dengan perasaan penuh kecemasan.
“Kondisi
saat ini sedang susah, mereka sulit untuk dilawan” Ucap salah satu bapak dengan
tergesa-gesa.
“Mereka
juga mempunyai izin.”
“Tapi
ini tanah kita, bukan tanah mereka, ini tempat kita menjalankan kehidupan.”
Ucap Apak
Pembicaraan yang cukup menengangkan seperti aliran
sungai yang tak tahu arah jalan.
Hari-hari berjalan begitu sangat Panjang.
Sebagian warga dari dusun, memilih mengerjakan kanal
baru karena mereka membutuhkan uang untung membiayai kehidupan mereka, tapi
Sebagian dari mereka juga menolak, dan lebih memilih menjalankan kebun, sagu,
dan ikan dari sungai yang tak lagi jernih.
Dusun yang dulunya selalu menyatu, kini terbelah buakan
karena pagar yang memisahkan, tetapi karena berbeda pilihan. Berjalan melewati
rumah-rumah yang kala itu terbuka ceria, kini tertutup rapat seperti
menyembunyikan sesuatu yang tak ingin diketahui seseorang.
Aku tahu, besok atau seterusnya, keadaan ini akan
datang lagi dan lagi.
Aku juga tahu jika masih ada telinga yang mendengar, dan
masih ada hati yang peduli, suara kecil yang tak pernah didengar akan bertahan
dan takkan hilang.
Aku, Apak, Mamak, Mak Cik, dan Sebagian warga sekitar
berdiri di sini, di antara luka dan permohonan, di antara konflik yang belum
selesai dengan keberanian yang tumbuh lebat.
Menjadi bagian dari suara kecil Lahan Gambut, menggema
kecil yang melarang lenyap, ditengah peradaban yang terus menerus berubah.