Rabu, 18 Februari 2026

RINTIHAN TANAH LAHAN GAMBUT

Senja jatuh diatas bibir sungai siak, air berjalan mengalir lembut, langit menyalang pagi seolah lupa menjadi biru. Rumah-rumah panggung bersikukuh enggan untuk jatuh diatas tanah blasteran waktu sejarah. Perahu berhilir mengantongi hasil hutan dan laut, udara terasa berat tak terlihat namun terasa di tubuh dada.

Kampung dikala itu ramai dengan kehidupan. Namun kini, suara itu memudar sebab asap yang mulai berjalan mengelilingi karena Lahan Gambut, bagiku ini tantangan yang cukup besar. Karena suara dayung, angin, burung rawa, dan doa di surau mengalun lembut, yang menemani kehidupan, hilang seperti ditelan sesuatu yang tak terlihat. Tanah yang selalu menyimpan air seperti ingatan yang takkan hilang, bunyi akar yang merambat, air yang mengalun di bawah tanah, berubah, retak.

***

Aku lahir dari suara yang hampir tak terdengar.

Bukan dari riuh pasar atau klakson jalan, melainkan dari tuturan lingkungan yang lembut. Semilir angin meniup deras Lahan Gambut kampungku, di tepi kehidupan Riau yang dipenuhi tanah basah dan dedaunan. Bukan hanya sekadar tanah yang basah, tapi seperti umur yang panjang tumbuh dengan sabar.

Di sini aku tumbuh bagai pohon sialang, di tengah suara air yang mengalir dan batang sagu.

Namun beberapa tahun terakhir, suara itu mulai memudar.

Suara tawa anak-anak, irama lagu diwaktu pagi. Terpojokkan dengan gerumuh mesin, Langkah-langkah orang membawa peta, dan janji-janji yang tertulis di atas kertas. Kata mereka tanah ini harus diasap agar kering, dan ditanami sesuatu yang lebih menguntungkan mereka.

Bagi mereka, tapi tidak untuk orang sekitar, aku tak mengerti apa yang mereka pikirkan.

Di sini, aku masih berdiri tegak disamping kanal yang barus saja membelah lahan gambut seperti luka, air yang mengalir, namun pelan tampak tak ingin meninggalkan rumahnya, kanan-kirinya, hitam, retak.

            “Jika beterusan begini, tanah ini akan mati,” bisik Apak malam itu sembari menyeruput kopi.

            “Udo, ini terlalu berlebihan,” sahut Mak Cik yang tinggal disekitaran dikota. “Udo, pernah gak sekali aja mikir, jika orang-orang di sini butuh pekerjaan, ini kesempatan besar untuk mereka berubah, supaya mereka gak terus hidup ditempat ini.”

Aku benar-benar tak berani menyela pembicaraan mereka, sebenarnya aku ingin sekali tuk mengeluarkan sepotong kata, namun kondisi mereka yang sudah seperti api yang membara membuatku berfikir seribu kali.

            “Kalau tanah ini mati, kita akan menjalani hidup dengan apa?”  Ucap Apak

Keadaan bukannya semakin tenang tetapi semakin mencengkam, diam bukan karena tak paham melainkan karena enggan mendengar Apak.

***

Angin kemarau melangkah lebih laju tahun itu

Lahan tanah gambut kini retak dan mengering, retakannya tak hanya di sekitar permukaan tapi juga keadaan kami yang berada diatas tanah ini. Setiap Langkah kini terasa sangat ringan bahkan terlalu ringan, seolah tanah yang kupijak tak lagi menyentuh kakiku.

Semilir sore datang ditemani asap bising dari mesin.

Walaupun hanya tipis, tapi seperti kabut yang tersesat. Aku ingat saat itu aku sedang mengambil air didekat situ, aku mencium bau yang mengepung langit, baunya benar asing dan menakutkan saat dihirup.

            “Kebakaran, ada kebakaran!” Jerit seseorang dari ujung dusun.

 Aku juga Apak, berlarian membawa ember, membawa cangkul, dan doa-doa dalam hati. Teriakkan warga bahkan dedaunan, mengebu-gebu menyaksikan sepanjang jalan dengan permohonan kepada tuhan.

Api dari lahan gambut tak seperti api pada umumnya. Ia tak menampakkan dirinya dipermukaan, ia menyelinap diantara tumpukan tanah, merambat perlahan, melahap akar-akar, juga ingatan yang ada dalam tanah itu sendiri. Asap menaruh kegelapan. Pengelihatan merangkak kabur. Sesak yang mengisi seluruh tubuh.

Disela-sela hiruk-pikuk kekacauan itu, aku mendengar bisikan. Bukan suara manusia, bukan juga hewan. Suara bisikan itu sangat kecil bak rintihan kesakitan.

            “Kurang airnya! Cepat tambah lagi!” teriak Apak.

Aku dan orang-orang sekitar berlarian kearah kanal, bergotong-gotong membawa, mengisi, Kembali lagi, dan terus berulang-ulang sampai lenganku tak mampu berkata. Namun, setiap aku Kembali kearah apak untuk memberikan air, dan berhenti sejenak, suara itu, datang lagi.

Aku menutup mataku sejenak, mendengar lebih jelas apa yang baru saja kudengar.

Suara itu seperti berkata: jangan biarkan aku menghilang dari sini.

Aku tak tahu harus mengatakan ini dengan cara seperti apa pada orang lain. Bagaimana mungkin tanah berbicara? Dan yang kami bangun ditasnya bersuara?

Tapi aku bisa merasakanya, mendengarnya dengan jelas. Diantara suara api yang bertebaran, teriakan orang-orang, dan dedaunan, rintihan itu terus bermunculan, membuatku menjadi gemetar.

***

Malam ini kami berkumpul di teras rumah.

Raut kelelahan terlihat jelas diwajah mereka, mata yang memerah, batuk yang tak henti-henti. Sebagian dari mereka ada yang berfikir untuk memilih pergi dari desa, sebab itu kami berkumpul malam ini untuk membicarakan dengan matang.

            “Apa kalian yakin untuk pergi dari sini?” Ucap Apak pada tetangga kami.

            “Jika kita diam saja, kita bisa mati bersama api-api ini,” sahut salah satu warga sekitar.

            “Begini, jika kita pergi bagaimana dengan tanah yang sudah menemani kita selama ini?” Tanyaku pelan, “Jika kita pergi, apakah kita menyisakan sesuatu untuk tanah ini?”

            “Mereka tak hanya membakar tanah, tapi membakar tempat awal kita hidup, jika kita meninggalkan begitu saja, kita membiarkan tanah ini mati ditangan mereka?” Ucapku dengan lantang sembari mengangkat cangkul.

Semua mata tertuju padaku. Mataku menatap kearah mereka, mencoba berfikir tentang perkataanku sebelumnya, sebab mereka menatapku juga dengan tatapan setajam pisau

Apakah ucapanku salah?

Kami memang tidak mempunyai alat-alat seperti dikota, namun kami memiliki cangkul, ember, doa yang selalu membersamai kami untuk melangkah.

Berhari-hari kami lalui, berhari-hari kami habiskan untuk meredakan keadaan disekitar dengan usaha yang sederhana, berharap tanah ini akan kembali basah dan hidup. Setiap aku melangkah, setiap aku lelah, ada suara yang selalu membuatku untuk tak menyerah menghidupkan tanah ini lagi, aku tak ingin kehidupanku menghilang hanya karena orang-orang seperti mereka yang ingin mensihir tanah ini pergi.

Aku selalu disini.

***

Beberapa minggu ini hujan turun dengan sangat lebat.

Rintik hujan kembali mengisi bibir gambut dengan sangat lembut, seperti langit yang tak kuat menahan air matannya. Aku berdiri, menatap tempat yang hampir pergi karena api dan perlakuan orang kota. Mendengar sejuk yang mulai akrab kembali, lirih lembut air mengalir meresap ke dalam tanah lahan gambut, ditemani daun-daun menari gembira.

Terdengar suara itu lagi. Tapi bukan seperti rintihan lirih kesakitan. Tapi kebahagiaan yang sedang melaju saat ini.

            “Aku mendengarnya, sepertinya kau sangat bahagia karena hujan,” Sahutku pada tanah dengan perasaan senang.

Kali pertama suara ini tak terdengar seperti kesakitan dan memohon, tapi seperti mengucapkan terima kasih. Sebenarnya aku tau jika konflik ini belum selesai, tapi hanya membaik karena hujan.

Orang-orang dari kota juga masih terus-menerus mengeringkan, dan mengambil lebih banyak dari tanah ini. Pasti akan selalu ada api-api yang bermunculan karena ulah mereka berikutnya. Tapi aku sekarang jadi tahu, selama masih ada orang yang mendengar lirih kecil dari tanah, kampung, dan peradaban yang hampir hilang, kita masih memiliki harapan untuk melanjutkan. Menjadi telinga untuk keadaan yang sering dianggap tak bersuara, menjadi saksi bahwa yang kecil, yang lemah, dan nyaris tak didengar, itulah yang harus dijaga.

***

Kabar pelebaran kanal menyebar meluas di seluruh tempat dengan cepat. Di teras dusun orang-orang Kembali berkumpul dengan raut wajah yang penuh dengan perasaan penuh kecemasan.

            “Kondisi saat ini sedang susah, mereka sulit untuk dilawan” Ucap salah satu bapak dengan tergesa-gesa.

            “Mereka juga mempunyai izin.”

            “Tapi ini tanah kita, bukan tanah mereka, ini tempat kita menjalankan kehidupan.” Ucap Apak

Pembicaraan yang cukup menengangkan seperti aliran sungai yang tak tahu arah jalan.

Hari-hari berjalan begitu sangat Panjang.

Sebagian warga dari dusun, memilih mengerjakan kanal baru karena mereka membutuhkan uang untung membiayai kehidupan mereka, tapi Sebagian dari mereka juga menolak, dan lebih memilih menjalankan kebun, sagu, dan ikan dari sungai yang tak lagi jernih.

Dusun yang dulunya selalu menyatu, kini terbelah buakan karena pagar yang memisahkan, tetapi karena berbeda pilihan. Berjalan melewati rumah-rumah yang kala itu terbuka ceria, kini tertutup rapat seperti menyembunyikan sesuatu yang tak ingin diketahui seseorang.

Aku tahu, besok atau seterusnya, keadaan ini akan datang lagi dan lagi.

Aku juga tahu jika masih ada telinga yang mendengar, dan masih ada hati yang peduli, suara kecil yang tak pernah didengar akan bertahan dan takkan hilang.

Aku, Apak, Mamak, Mak Cik, dan Sebagian warga sekitar berdiri di sini, di antara luka dan permohonan, di antara konflik yang belum selesai dengan keberanian yang tumbuh lebat.

Menjadi bagian dari suara kecil Lahan Gambut, menggema kecil yang melarang lenyap, ditengah peradaban yang terus menerus berubah.

 

 

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

GENANGAN

Di lekuk nabastala yang redup, Rintik hujan menjahit sunyi utas air, Jatuh dengan tenang— Bak doa-doa luruh dibibir jagat.   Tetesannya liri...