Rabu, 18 Februari 2026

JEJAK ALAM DARI KESUNYIAN

/1/

Berjalan tanpa alas, tanpa keluh

Melewati waktu dan balantara

Suku sederhana memadukan alam

Mereka, mengembala sekeliling daerah

 

/2/

Bak kehidupan jauh dari kata serakah

Bersikukuh dengan subur yang hidup.

Di antara bangunan yang menjulang tinggi

Hutan tumbuh berseri asri

 

Dengan pakaian putih, layaknya janji yang tak akan pudar

Pada leluhur dan tanah mereka di waktu kala itu,

Di sanalah, di jantung Banten yang teduh,

 Urang Kanekes,

Yang kita sebut: Baduy

Tapi mereka tidak sebut diri,

 

Karena julukan bukanlah inti bentuk hidup

Hanya alam, kejujuran, nan prilaku yang mereka rawat

Di hutan, di bawah rimba, di kesunyian.

 

“Kami bukan yang kala itu,” tutur mereka

“Kami kehidupan yang masih membeku dalam,

putaran abad dunia.”

/3/

Berasal dari halaman pajajaran kala itu

Silsilah kerajaan tenggelam dalam lembar lalu

Tetapi, menurut mereka, sejarah bukanlah keberhasilan,

Melainkan sebuah titipan dunia untuk dijaga

 

Pemimpin yang tak dipilih lewat surat suara

Namun takdir yang berkata,

Bukan tentang kekuasaan dunia,

Tapi tentang kebudayaan adat mereka

Baduy bak detik yang berdiam diri

Membantah dunia penuh silih.

 

/4/

Tak ada bangunan megah,

Tapi ada hutan terhias indah karena mereka,

 

Tak punya sesuatu berselimut emas,

Tapi punya mata air mengalir bebas,

Sasaka Domas, puncak gunung yang mereka jaga.

 

Tertunduk bukan pada patung,

Bukan juga langit,

Tetapi pada:

Nu Kawasa, Maha Kuasa.

Dunia boleh berisik dengan perselisihan.

Namun baduy tetap melangkah dalam diam,

Baduy bukan masa lalu, tapi masa depan yang menolak hangat zaman.

Langkah mereka tak bersuara, tapi bayang-bayang mereka bergema hingga kota-kota yang kehilangan arah.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

GENANGAN

Di lekuk nabastala yang redup, Rintik hujan menjahit sunyi utas air, Jatuh dengan tenang— Bak doa-doa luruh dibibir jagat.   Tetesannya liri...