/1/
Berjalan tanpa alas, tanpa keluh
Melewati waktu dan balantara
Suku sederhana memadukan alam
Mereka, mengembala sekeliling daerah
/2/
Bak kehidupan jauh dari kata serakah
Bersikukuh dengan subur yang hidup.
Di antara bangunan yang menjulang tinggi
Hutan tumbuh berseri asri
Dengan pakaian putih, layaknya janji yang tak akan
pudar
Pada leluhur dan tanah mereka di waktu kala itu,
Di sanalah, di jantung Banten yang teduh,
Urang Kanekes,
Yang kita sebut: Baduy
Tapi mereka tidak sebut diri,
Karena julukan bukanlah inti bentuk hidup
Hanya alam, kejujuran, nan prilaku yang mereka rawat
Di hutan, di bawah rimba, di kesunyian.
“Kami bukan yang kala itu,” tutur mereka
“Kami kehidupan yang masih membeku dalam,
putaran abad dunia.”
/3/
Berasal dari halaman pajajaran kala itu
Silsilah kerajaan tenggelam dalam lembar lalu
Tetapi, menurut mereka, sejarah bukanlah keberhasilan,
Melainkan sebuah titipan dunia untuk dijaga
Pemimpin yang tak dipilih lewat surat suara
Namun takdir yang berkata,
Bukan tentang kekuasaan dunia,
Tapi tentang kebudayaan adat mereka
Baduy bak detik yang berdiam diri
Membantah dunia penuh silih.
/4/
Tak ada bangunan megah,
Tapi ada hutan terhias indah karena mereka,
Tak punya sesuatu berselimut emas,
Tapi punya mata air mengalir bebas,
Sasaka Domas, puncak gunung yang mereka jaga.
Tertunduk bukan pada patung,
Bukan juga langit,
Tetapi pada:
Nu Kawasa, Maha Kuasa.
Dunia boleh berisik dengan perselisihan.
Namun baduy tetap melangkah dalam diam,
Baduy bukan masa lalu, tapi masa depan yang menolak hangat
zaman.
Langkah mereka tak bersuara, tapi bayang-bayang mereka
bergema hingga kota-kota yang kehilangan arah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar