Di tanah lapang matahari tersenyum lebar,
Terbentang kisah di ujung sabang hingga Merauke,
Lantunan gamelan beradu seru atas degup ombak,
Bernyanyi tentang sejarah-sejarah penuh cinta dan persatuan.
Di pucuk kain tenun batik kabar
falsafah bergema,
Sepanjang goresan, setiap
warna,
adalah jiwa dan doa-doa bersama,
Dari tangan-tangan penenun yang tak padam api
hidupnya.
Suara tangan tari saman menggebu-gebu di atas dada,
Wayang-wayang hidup dengan cara bijak,
Keris berkilau mengkilat bukan karna tajamnya,
Tetapi karna cara, nilai yang menjaganya.
Rumah-rumah adat berdiri kokoh
dengan kehangatan,
Menjadi wadah dari banyaknya
cerita dan rahasia hidup,
Menjadi saksi bagaimana kita
hidup dengan keberagaman,
Menjadi tempat di mana kita
sedih, senang menjadi satu.
Warisan bukan debu yang bisa menghilang begitu saja,
Ia adalah jantung, hati seluruh dunia.
/2/ Cermin warisan dan tubuh bangsa
Diujung tepian Sungai Siak teduh,
Menarilah sejarah, kisah kala itu,
Ombak-ombak itu mengantongi seluruh,
Marwah-marwah yang telah dijaga waktu,
Pohon Pulai berdenting dibibir
Sumatra
Mengkilatnya bak kunang-kunang
semesta
Jika bukan karena warisan, dan
bangsa
Mungkin takkan hidup raga
nusantara
Suara gendang kompang menggebu-gebu,
Zapin menari di bawah pelita bintang,
tak hanya sekadar menari,
tapi tentang sopan, tantang raga yang dibawa Marwah,
kau, Riau bukan sekadar nama
peta,
kau, bak helai kehangantan
tergerai di tubuh bangsa,
kupandang jiwa Riau pada
sabana sunyi,
tempat melayu kokoh dengan
santun.
karena Riau telah menjadi saksi:
bahwa bangsa besar lahir dari kesetiaan pada budayan
.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar